Narasi Pilu Gempa Palu

0
39

Narasi Pilu Gempa Palu
Oleh Anif Punto Utomo
Kageogama 1983

Jumat, 28 September 2018.
Sore itu suasana cerah melingkupi Palu. Aktivitas berlangsung normal. Mobil dan motor berseliweran di setiap sudut jalan. Masyarakat hilir mudik dengan keperluan masing-masing. Mall nampak mulai ramai. Tak sedikit pula masyarakat yang tetap tinggal dirumah menunggu datangnya waktu magrib.

Ratusan masyarakat terlihat menikmati senja di pantai Watusampu dan Pantai Talise. Ada sekelompok anak muda yang saling bercengkerama, ada keluarga muda dengan anak-anak kecilnya, ada orang kantoran yang melepas penat setelah seharian bekerja. Terlihat pula Wakil Walikota Palu Sigit Purnomo yang lebih dikenal dengan nama Pasha Ungu sedang mengecek persiapan acara memperingati hari jadi Palu ke 40.

Saat keceriaan memenuhi aura pantai andalan kota Palu, tiba-tiba terdengar seperti suara gemuruh disertai dengan bumi yang seperti terhentak-hentak. Bumi tergoncang. ‘’Gempa..gempa…’’ Saat itu pukul 18.02 di Palu. Bukan hanya yang dipantai yang merasakan, tetapi semua masyarakat tengah kota dan di setiap sudut kota Palu.

Panik. Mereka yang ada di gedung berebut mencari pintu keluar. Masyarakat yang di dalam rumah berhamburan keluar, ibu-ibu yang memiliki anak kecil dengan gesit menggendong anaknya keluar. Masing-masing berlari ke tempat yang dirasa aman. Ada pula yang saking paniknya berlari kesana kemarin tanpa tahu harus kemana.

Dalam sekejap, gempa yang berlangsung satu menit itu meluluhlantakkan ratusan bangunan yang berada di kota Palu. Hotel, pertokoan, mall, dan bangunan besar lainnya termasuk jembatan kuning yang menjadi ikon kebanggaan rakyat Palu roboh. Bahkan hotel Roa-Roa yang bersiap merayakan empat tahun berdirinya runtuh hingga rata dengan tanah. Rumah-rumah penduduk sebagian juga hancur.
Rupanya sesar Palukoro sedang melepaskan energinya. Sesar Palukoro adalah sesar sepanjang 250 km yang membelah kota Palu. Sesar ini memiliki siklus gempa 100 tahunan. Gempa besar dengan siklus satu abad itu terjadi 1907 –yang disusul 1909– dan yang terjadi 28 September 2018 lalu.

Diboks –

Tak Menduga Sedahsyat Ini
Dengan keterbatasan jumlah sample uji AMS karbon dating akhirnya dapat diketahui bahwa gempa terakhir di Palu adalah kejadian 1909 yang sesuai juga dengan buku Abendanon (1917) yang merupakan saksi kejadian gempa di tahun 1907 dan tahun 1909.

Pada tahun 2012 terjadi gempabumi Magnitud 6 di Danau Lindu. Saya bersama kolega GREAT (program pasca sarjana tentang gempabumi – hardcore sciencenya) mendapatkan kesempatan untuk mempelajari kejadian gempabumi ini dan hasilnya menunjukkan bahwa gempabumi 2012 identik dengan kejadian gempabumi 1907 (yang kita tahu dua tahun berikutnya disusul dengan gempabumi yang lebih besar pada tahun 1909).

Kekuatiran ini saya sampaikan ke senior peneliti Prof. Hery Harjono (Pak Hery). Pak Hery bilang kesaya untuk berani dan harus memberikan informasi ini ke masyarakat.

Tepat di dalam kegiatan diseminasi tahunan Puslit Geoteknologi LIPI saya bertemu dengan Mas Anwar wartawan Tempo wilayah Bandung dan dimuat. Saya jelaskan kemungkinan karakteristik gempabumi di Sesar Palukoro ini bahwa kebiasaan Sesar Utama bergerak didahului oleh gempabumi dari sesar minor yang tegaklurus. Jika benar berarti dua tahun setelah 2012 yaitu adalah tahun 2014.

Saya berharap perhitungan ini salah dan ternyata tidak terjadi gempabumi di tahun 2014. Tetapi kemudian terjadi gempabumi Magnitudo 7.4 pada tahun 2018 ini.

Ketika gempa 2018 ini terjadi, WA Pak Hery langsung menanyakan apakah benar ini adalah gempa yang saya tunggu?

Awalnya saya ‘Ya’ dan ‘Bukan’. ‘Ya’, karena memang gempa bumi di tiap segmen Sesar Palukoro mampu menghasilkan gempabumi Magnitudo 7. ‘Bukan’, karena lokasi sumber gempa adalah di utara Segment Palu (segmen paling utara didarat). Setelah data interferrometri pergerakan deformasi didarat akhirnya jelas terlihat bahwa gempabumi ini juga telah menggerakkan Segmen Saluki – lokasi dimana saya menemukan bukti kejadian gempabumi 1909.

Berarti Ya – ini gempa yang saya tunggu. Tetapi saya tidak pernah menduga sedasyat ini….

Dicuplik dari tulisan Peneliti Geoteknologi LIPI Mudrik Daryono di laman facebook-nya.

Tsunami Datang Dini
Begitu gempa menggoncang, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis pengumuman bahwa telah terjadi gempa dengan kekuatan Magnitudo 7,4 di Palu-Donggala pada pukul 18.02. Data-data gempa tersebut kemudian dibuat model tentang skenario kemungkinan terjadi tsunami. Pada 18.07, BMKG mengeluarkan ‘Peringatan Dini Tsunami’ dimana wilayah Palu dan Donggala berstatus ‘Siaga’. Perkiraan waktu tiba tsunami 18.22.

Tapi ternyata tsunami datang lebih dini. Pada 18.10 gelombang tsumani sudah datang sampai pukul 18.13. Masyarakat yang berada di pantai tidak punya waktu lagi untuk menyelamatkan diri setelah ada peringatan dari BMKG. Kedatangan tsunami yang lebih dini dari perkiraan tersebut membuat masyarakat tidak siap. Bahkan seandainya kedatangan tsunami sesuai perkiraan pun, barangkali sebagian besar masyarakat juga tidak siap.

‘’Naik..naik..ada tsunami… ayo naik, cepat,’’ terdengar suara orang yang berada di bangunan tinggi (Palu Grand Mall) di tepi pantai Talise saat dia melihat datangnya gelombang dari laut. ‘’Ayoo..cepet lari… naik kesini,’’ teriaknya lebih lantang lagi kepada masyarakat yang masih berada di pantai ketika terjangan tsunami semakin mendekat. Beberapa detik kemudian..wuuzzz, tsunami menyapu pantai.

Lewat video yang diunggah oleh orang-orang yang teriak tadi terlihat datangnya tsunami dalam tiga gelombang, dan gelombang terakhir merupakan yang terbesar. Bangunan di pinggir pantai yang semula tegar bediri ketika gelombang pertama dan kedua datang, tak mampu bertahan ketika gelombang ketiga datang. Bangunan-bangunan roboh tersapu gelombang, papan iklan yang menampilkan salah satu kandidat anggota DPR-RI pun tak kuasa menahan dahsyatnya gelombang tsunami setinggi tiga-empat meter.

Goncangan gempa dan sapuan gelombang tsunami mengakibatkan Palu lumpuh. Seluruh aliran listrik mati total, sarana komunikasi relatif terputus. Hanya satu operator telepon yang saat itu bisa berkomunikasi, itu pun sangat terbatas, akibatnya komunikasi dengan dunia luar tersendat. Staf BMKG yang tak punya peralatan khusus tak bisa mengabarkan secara cepat apa yang terjadi di Palu.

Tak lama berselang, masyarakat Palu di wilayah Balaroa dan Patebo, serta wilayah Jono Oge (yang sangat dekat dengan ujung Bandara Mutiara) terkejut karena tiba-tiba rumah yang dihuninya berjalan. Dari kejahuan tampak ratusan rumah bergerak ke satu arah laksana mengikuti aliran air. Semua penghalang diterjang, di beberapa tempat tanah terangkat, termasuk infrastuktur jalan. Mobil yang ada di jalanan saling menubruk dan bergelimpangan.

Saat itu ratusan penghuni keluar dari rumahnya untuk menyelamatkan diri. ‘’Saya mengikuti gerakan tanah, kalau ada gundukan saya langsung ke gundukan, ada gundukan lagi saya pindah,’’ kata ibu-ibu salah seorang korban sewaktu diwawancara stasiun televisi. Saat diwawancarai, ibu itu masih mencoba menemukan saudaranya yang tidak sempat lari ketika rumahnya terbawa arus.

‘’Bergeraknya tanah itu karena proses likuifaksi,’’ kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam keterangannya kepada pers sehari setelah gempa. Proses likuifaksi tersebut mengakibatkan adanya rumah yang bergeser, bahkan menenggelamkan bangunan yang ada di atas tanah sebelumnya. Di Balaroa, 1700 bangunan hancur dan sebagian tenggelam. Begitu juga di Patebo dan Jono Oge, ribuan rumah tak berujud dan mayoritas hilang.

Likuifaksi yang memporakporandakan pemukiman Petebo (beritaaktualislam.com)

Likuifaksi merupakan proses keluarnya lumpur dari lapisan tanah akibat guncangan gempa dan menyebabkan lapisan tanah yang awalnya kompak, bercampur dengan air menjadi lumpur. Kekuatan tanah yang berkurang mengakibatkan bangunan di atasnya tenggelam dan akan bergerak jika di dalam tanah ada lapisan yang menjadi bidang luncur.

Bencana di Palu menyajika genomena berbeda. Dari serentetan peristiwa gempa di tanah air, dan sebagian besar gempa di seluruh dunia, gempa menjadi bencana tunggal. Kemudian dalam jumlah yang lebih kecil terdapat gempa yang memicu terjadinya tsunami, sehingga ada dobel bencana: gempa dan tsunami. Nah pada kejadian di Palu, triple bencana.

Diboks—

7 Likuifaksi di Indonesia Sejak 1992
1. Maumere. 12 Desember 1992. 6,4 SR.
Likuifaksi berupa retakan tanah dan munculnya semburan pasir
2. Aceh. 26 Desember 2004. 9,3 SR.
Likuifaksi munculnya lumpur
3. Jogjakarta. 27 Mei 2006. 5,9 SR
Likuifaksi semburan lumpur menyumbat sumur penduduk
4. Bengkulu. 12 September 2007. 7,9 SR
Likuifaksi berskala kecil ebrupa semburan pasir
5. Padang. 30 September 2009. 7,6 SR
Likuifaksi semburan lumpur dan retakan tanah
6. Lombok. 5 Agutus 2018. 7 SR
Likuifaksi semburan pasir menyubat sumur penduduk
7. Palu. 30 September 2018. 7.4 SR
Likuifaksi masif menggeser dan menenggelamkan pemukiman

Ibarat cerita silat, maka Palu diserang bencana dari tiga penjuru yakni gempa, tsunami dan likuifaksi. Gempa di Lombok 29 Juli 2018 lalu, memang disusul dengan tsunami dan likufaksi, tetapi tsunaminya sangat kecil sehingga bisa diabaikan, sedangkan likuifaksi hanya berupa semburan pasir dari dalam tanah karena tergencet oleh massa di atasnya. Tsunami dan likuifkasi di Lombok tak mengakibatkan korban. Hanya saja beberapa sumur penduduk menjadi kering karena lobang keluar mataair tertutup pasir.

Peristiwa serangan tiga penjuru yang meluluhlantakkan suatu daerah ini memang bukan yang pertama kali terjadi. Menurut Gayatri Indah Marliani, peneliti gempa dan pengajar di Departemen Geologi UGM, pernah ada gempa besar yang memicu terjadinya tsunami raksasa dan likuifaksi masif. ‘’Gempa yang mengakibatkan tsunami dan likuifaksi yang dahsyat pernah terjadi pada 26 Maret 1964 di Alaska yang dikenal sebagai the Great Alaska Earthquake,’’ kata Gayatri.

Gempa berkekuatan M 9,2 yang merupakan gempa terbesar kedua dunia dalam sejarah gempa tersebut memicu terjadinya tsunami yang mencapai daerah dengan ketingian 62m dari permukaan laut. Selain itu juga mengakibatkan likuifaksi di banyak wilayah di Alaska termasuk kota Anchorage yang mengalami kerusakan paling parah. Korban akibat gempa, tsunami, dan likuifaksi tercatat sebanyak 139 orang.

Gempa Darat Memicu Tsunami?
Sampai saat artikel ini ditulis, yang masih menjadi diskusi di kalangan geolog dan ahli gempa adalah, bagaimana kaitan antara gempa di darat dan terjadinya tsunami. Sudah begitu, gempa tersebut terjadi karena sesar geser, bukan sesar naik. Lazimnya, gempa yang memicu terjadi tsunami terjadi di laut dengan maginitudo besar, dan berupa sesar naik berupa megatrust.

Menurut Rovicky Dwiputrohari, memang seolah tidak lazim gempa berpusat di darat memicu tsunami. ‘’Namun apabila dislokasi lateral ini cukup besar dan dipengaruhi oleh morfologi dasar laut, bisa saja memicu tsunami, walau tidak sebesar tsunami akibat megathrust di laut,’’ kata mantan ketua umum IAGI itu kepada Berita IAGI, awal Oktober lalu.

Sejauh ini ada tiga kemungkinan yang menyebabkan terjadinya tsunami dalam gempa Palu. Pertama disebabkan longsoran tanah di dalam laut dalam skala masif. Kemungkinan kedua, gempa karena sesar geser tersebut memicu terjadinya sesar naik di dalam laut yang kemudian menjadikan tsunami. Ketiga, gempa Palu ini memacu terjadinya flower structure bawah laut. ‘’Sejauh ini arahnya disebabkan oleh longsoran di laut,’’ kata ketua umum IAGI Sukmandaru Prihatmoko.

Longsoran di laut tersebut membuat ketidakseimbangan air sehingga terjadilah gelombang. Gelombang tersebut masuk ke teluk Palu, karena teluk tersebut sempit dan memanjang terjadilah resonansi gelombang sehingga membuat gelombang yang dikirim ke pantai di kota Palu kian besar.

Apakah gempa ada kasus lain dimana gempa darat telah memicu tsunami besar? ‘’Ada,’’ jawab Gayatri. Dari catatannya, paling tidak ada dua gempa besar di belahan dunia lain yang memicu terjadinya tsunami dalam skala yang mematikan, yakni terjadi di Alaska dan Papuna Nugini.

Pada 9 Juli 1958 terjadi gempa di di Lituya Bay Alaska dengan Magnitudo 8. Gempa bumi ini terjadi di darat dan mengakibatkan longsor besar yang menimbulkan mega-tsunami dengan ketinggian hingga 520meter dari pemukaan laut. Hah? Benar ketinggiannya lima kali tinggi Monas? ‘’Iya benar, karena gempa itu memicu massa batuan sebanyak 30,6 juta ton jatuh dari ketinggian 914 meter, sehingga menciptakan gelombang sangat tinggi, gelombang ini tercatat sebagai tsunami tertinggi sepanjang sejarah,’’ kata Gayatri.

Kedua, pada 17 Juli 1998 terjadi gempa dengan Magnitudo 7,0 di Papua Nugini. Awalnya diperkirakan tsunami terjadi akibat pergerakan dasar laut karena gempa, tetapi magnitude gempa terlalu kecil untuk menghasilkan pergerakan dan tsunami yang sebesar itu. ‘’Penyelidikan selanjutnya menunjukkan bahwa tsunami yang membunuh lebih dari 2100 orang ini diakibatkan oleh adanya longsoran bawah laut.’’

Begitulah yang terjadi di Palu. Gempa datang tak terduga. Tsunami menyusul tanpa permisi. Disusul likuifaksi yang menyentakkan bukan hanya warga Palu tetapi juga seluruh warga dunia. Gempa Palu telah membuat pilu masyarakat Sulawesi Tengah. Masyarakat dunia pun [email protected] Dimuat di Berita IAGI Edisi XV-September 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here