Dikutip dari majalah Gelora Mahasiswa, no.8, thn 3, edisi Desember 1978.

Prof_S2[1]Anakmuda harus punyakeberanian bereksperimen, ketangguhan “ousdour” atau ketahanan diri dalam menghadapi cobaan hidup. Percaya kepada kemampuan diri dan jangan hanya menggantungkan input dari pendidikan formil, tapi belajarlah otodidak,” demikian petuah Profesor Soeroso Notohadiprawiro, 72 tahun, Gurubesar matakuliah Geologi di Fakultas Teknik UGM. Dia bukan sarjana, tidak punya diploma perguruan tinggi selain ijazah STM jaman Belanda “Princees Yulianna School” jurusan Sipil dan mengecap pendidikan arsitek 1,5 tahun. Namun bukan omong kosong bahwa mbah Roso – nama panggilan dari para mahasiswa, adalah orang Indonesia pertama yang punya reputasi di bidang ilmu geologi secara gemilang, lagipula tanpa lewat bangku kuliah.

Kecemerlangan otaknya dibuktikan sejak kecil. Sekolah Dasar (Mulo) yang 7 tahun hanya diikuti kelas-kelas 1, 2, 4 dan 7, kemudian masuk STM PYS, 4 tahun. Sebenarnya rintisan pengalamannya di bidang bangunan sipilpun cukup cerah. Ketika usia 18 tahun – menurut Undang-Undang Perburuhan Belanda belum boleh bekerja, dia sudah menjadi pelaksana bangunan dari perusahaan pemborong “Sitzen & Lozauda” Yogyakarta, yang mengerjakan gedung BNI 1946, kantor berita “Antara”, PLN Magelang dan rumah-rumah di Kotabaru. Tetapi kebosanan dan keinginannya untuk hidup berdikari mendorong dia meninggalkan pekerjaannya dan menerima anjuran bekas gurunya Van Der Houven mendaftarkan sebagai pegawai perusahaan minyak Inggris dan Belanda “Shell” dan BPM. Atas bantuan insinyur Houven pula, pemuda Soeroso merupakan satu-satunya orang pribumi dari 80 pemuda yang diterima. “Waktu itu Belanda memang menutup kemungkinan orang pribumi belajar geologi dan pertambangan, sehingga pengembangan ilmu geologi disini agak lamban”, ujar Profesor.

Selama 3,5 tahun putra dokter jawa Soekardi mengikuti pendidikan pegawai perminyakan di Den Haag, sebelum diangkat jadi ajun geoloog. Kerja pertamanya di daerah Rantau, Aceh, mengawali prestasi-prestasi Soeroso sebagai ahli eksplorasi geologi dan minyak bumi. Dia berhasil “menjatuhkan” 17 orang penyelidik pendahulunya – termasuk beberapa sarjana, yang telah menyatakan Rantau sebagai daerah ‘non minyak’, tetapi ternyata merupakan sumber minyak yang menghasilkan jutaan gulden bagi BPM dan Shell. Kemudian berturut-turut dijelajahi hampir seluruh Sumatera untuk mencari ladang minyak baru atau eksplorasi ilmiah. “Di Pangkalan Susu, Teluk Aru, ladang minyak yang saya temukan ketika di bor menyembur deras dengan debit 1 juta ton sehari telah menggenangi laut dan terbakar. Apinya menjulang dan kelihatan dari jarak 90 km di kota Medan, sebulan baru dapat dipadamkan dengan bantuan tenaga dari Amerika. Peristiwa itu membeawa beberapa korban jiwa manusia …”, nampak suara Profesor sendu menceritakan kisahnya kepada GEMA.

Jaman perang memang mampu menyulam pengalaman orang dengan aneka cara hidup. Tatkala Jepang masuk, Soeroso yang masih punya gelar bangsawan : Raden, terpaksa sembunyi di Gunung Sawal, Jawa Barat, takut jika dipaksa jadi romusha oleh ‘saudara tua’. Hampir dua tahun saya jadi petani karet dan kelapa serta mendirikan perusahaan dagang “Banyu Asih”, sebelum saya diminta menjadi Wakil Direktur STM Jakarta oleh kerabat saya Ki Hadjar Dewantara dan mulai saat itu saya melakukan profesi sebagai pendidik” dan berkenalan dengan Pak Johannes Roeseno, Soewandi dari Bandung. Katili masih jadi mahasiswa”, katanya. Tetapi kerja baru sebagai pendidikpun kiranya Soeroso tidak mengalami hambatan. Setelah ikut hijrah mendahului pindahnya pusat pemerintahan RI ke Yogya, bersama sejumlah Profesor dan bangsawan kraton, Soeroso ikut mendirikan Universitas Gadjah Mada serta menjadi dosen Geologi.

Tahun 1960, resmi jabatan Gurubesar ilmu Geologi mulai dipangku, dan Soeroso adalah Professor yang bukan sarjana. Lulusan STM yang pernah ceramah di Utrech, California, Tokyo, Delft, Utah, Austria, Munchen serta mendapat penghargaan dari “International Cooperation Administration, karena prestasinya di bidang pendidikan teknik plus Bintang Satya Lencana Pengabdian dari Pemerintah RI.

—–

Tambahan dari webmaster :

Nama Prof Soeroso sekarang dipakai sebagai nama Stasiun Lapangan Geologi di Byat, Klaten, Jawa Tengah. Stasiun Lapangan ini menjadi tempat kuliah lapangan baik dari Jurusan Geologi, dan fakultas lain dari Univ Gadjah Mada, juga dari Universitas lain. Lapangan ini dikelola oleh Jurusan Teknik Geologi UGM.