HARI AIR DUNIA 2019: ‘JANGAN ADA ORANG YANG TIDAK DITANGANI’

0
54

HARI AIR DUNIA 2019: ‘JANGAN ADA ORANG YANG TIDAK DITANGANI’
Otto S. R. Ongkosongo

Pertumbuhan jumlah penduduk dunia, khususnya sejak akhir milenium ke 2 sampai sekarang, meningkat luar biasa. Jumlah penduduk tahun 2019 ini diperhitungkan dan diperkirakan sudah mencapai 7,715 milyard dengan laju peningkatan rata-rata 1,07 % per tahun. Padahal diperkirakan pada tahun 1800 jumlah penduduknya baru 1 milyard jiwa, tahun 1927 2 milyard orang, tahun 1960 meningkat menjadi 3 milyard, tahun 1974 4 milyard, 1987 5 milyard, tahun 1999 6 milyard, dan tahun 2011 menjadi 7 milyard. Tahun 2021 diperkirakan sudah akan menjadi 8 milyard jiwa. Bila diplot dalam kurve, nampak bahwa secara umum pertumbuhan penduduk dunia sangat kurvilinear.
Berkaitan dengan masalah air yang secara umum dilihat sebagai sumber daya air, pertumbuhan cepat jumlah penduduk ini menyebabkan peningkatan kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup. Akibatnya air bersih dan layak minum, yang dapat disebut sebagai air sehat yang dapat diminum langsung dan dapat diperoleh langsung di permukaan bumi menjadi langka. Apalagi pada lingkungan permukiman yang padat penduduk dan miskin penanganan lingkungan hidupnya. Untuk kebutuhan minum dan kemudian untuk memasak makanan, sejak setengah abad terakhir masyarakat dunia, khususnya masyarakat perkotaan, sedikit demi sedikit namun cepat mulai menggunakan air dalam kemasan. Kebutuhan untuk hidup layak juga menjadi masalah besar dan menerus, apalagi dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan energi. Di sisi lain sanitasi lingkungan juga menjadi bertambah buruk, apalagi pada lingkungan yang kumuh-sangat kumuh.
Menyadari akan semakin tertekannya lingkungan hidup, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menyelenggarakan pertemuan tingkat tinggi United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) di Rio de Janeiro, Brazilia. Dalam konferensi yang sering disebut dengan KTT Bumi ini pada tanggal 22 Desember 1992 dihasilkan Millenium Development Goals (MDG) atau Agenda 21, di mana pada Chapter 18 diberi judul ‘Fresh Water Resources’ (Protection of the quality and supply of freshwater resources: application of integrated approaches to the development, management and use of water resources). Selain itu juga disepakati untuk menetapkan tanggal 22 Maret sebagai Hari Air Dunia, dan diterapkan setiap tahun oleh 193 Negara di dunia. Dalam perkembangannya kemudian pada pertemuan tingkat tinggi tahun 2012 (Rio+20) di Rio de Janeiro pula kesepakatan MDG diubah menjadi SDG (Sustainable Development Goals), dan masalah keairan diubah menjadi SDG Goal 6. Clean Water and Sanitation. Diharapkan dapat dicapai Agenda Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development) tahun 2030. Penetapan Hari Air Dunia ini dimaksudkan agar seluruh masyarakat dan Negara di dunia menjadari pentingnya air tawar dan agar semuanya terus-menerus melaksanakan pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan. Selain sebagai sumber hidup manusia dan mahluk hidup lainnya, air juga diperlukan untuk berbagai keperluan lain seperti lingkungan hidup, pertanian, kesehatan, dan perdagangan. Tema peringatan Hari Air Dunia tahun 2019 ini adalah ‘Leaving no one behind’, yang secara sederhana di sini diterjemahkan sebagai ‘Jangan ada orang yang tidak ditangani’.
Dalam menangani masalah air, PBB melalui berbagai organisasi dan kegiatan yang terkait seperti UN Water, Unesco, UNDP, FAO, IHP, dan juga banyak sekali organisasi peduli air semisal World Water Council (WWC) dan Asian Water Council (AWC) terus-menerus mensosialisasikan agar masyarakat dunia memahami tujuan bersama pembangunan berkelanjutan yang saling menguntungkan bagi seluruh masyarakat dunia. Meskipun masih sangat sedikit hasil kerjanya, Indonesia juga sudah memiliki Dewan Sumber Daya Air Nasional (DSDAN), dan beberapa daerah juga membentuk Dewan Sumber Daya Air Daerah (DSDAD). Banyak Negara termasuk Indonesia yang tertarik untuk menerapkan konsep Pengelolaan Sumber Daya Air Secara Terpadu (Integrated Water Resources Management, IWRM) dalam mengelola sumber daya airnya. Namun demikian, penulis lebih senang menggunakan istilah Pembangunan Dan Pengelolaan Sumber Daya Air Seca Terpadu (Integrated Development and Management of Water Resources, IDMWR). Konsep IDWMR ini bersesuaian dengan konsep Unesco yang dicakup dalam World Water Development Programme (WWAP).
Konsep penanganan masalah air adalah dalam menuju Ketahanan Air (Water Security) dalam menuju kesejahteraan masyarakat dan menghindari konflik. Berbagai publikasi telah dihasilkan oleh berbagai organisasi PBB dan lain-lain. Sebagian dari padanya berjudul The UN World Water Development Report 2019 oleh Unesco dan juga 6 Clean Water and Sanitation oleh UN Water tahun 2018. Program SDG 6 pada intinya mencakup 8 target, yaitu target-target air minum, sanitasi dan higien, kualitas air dan kelangkaan, pengelolaan sumber daya air, ekosistem yang terkait air, kerjasama internasional dan pembangunan kapasitas, serta partisipasi fihak terkait. Dalam pengelolaan sumber daya air, sebagai misal, telah dihasilkan Johannesburg Plan of Implementation (2002) di mana dihasilkan konsep IWRM dan rencana-rencana efisiensi air.
Ketahanan air adalah keterpenuhan kebutuhan air yang layak dan berkelanjutan untuk kehidupan dan pertumbuhan/pembangunan serta terkelolanya risiko yang berkaitan dengan air. Dalam menangani masalah air ini DSDAN telah menyusun Draft Perpres tentang Kebijakan Nasional Pengelolaan Sumber Daya Air (2019) serta Draft Isu Strategis Nasional Ketahanan Air (63 halaman, 2019). Dalam pelaksanaan pengelolaan sumber daya air saat ini, telah diterbitkan Perpres No. 2 tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, di mana masalah air dicakup dalam kebijakan ketahanan air dalam menuju pembangunan berkelanjutan. Ketahanan air berkait dengan ketahanan pangan dan ketahanan energi. Dalam praktek pengelolaan sumber daya air harus dilakukan secara menyeluruh, terpadu dan berkelanjutan, dengan kegiatan-kegiatan konservasi air, pendayagunaan air, dan pengendalian daya rusak air. Selain itu harus didukung dengan pengelolaan system sumber daya air (SISDA) khususnya melalui sistem informasi hidrometeorologi, hidrologi, dan hidrogeologi (SIH3), dan juga dengan partisipasi masyarakat.
Sangat diharapkan bahwa seluruh masyarakat yang telah mengerti dan memahami masalah Hari Air Dunia beserta tekanan yang terus-menerus semakin meningkat terhadap sumber daya air dapat memperluas sosialisasi masalah ini. Beberapa Kementerian dan kelompok masyarakat juga sudah beberapa waktu memulai dengan berbagai kegiatan, sebagai missal Kementerian PUPR yang setiap tahun menyelenggarakan pameran. Para ahli geologi sudah seharusnya memikirkan konsep apa yang menjadi tugasnya berkaitan dengan masalah sumber daya air, misalnya dalam konservasi mata air, pemetaan dan penetapan daerah pengimbuhan alami air, pemboran air, teknik-teknik mitigasi menghadapi bencana akibat air khususnya pada musim penghujan dan musim kering panjang, penyusupan air asin, teknik pengimbuhan air, penyediaan air bersih/sehat, lahan basah (wetland) dan sungai, dan perawatan dan pembuatan lahan cadangan air semisal akuifer, embung dan danau. Semoga semakin banyak orang yang ikut berpartisipasi memikirkan dan melaksanakan pekerjaan sangat serius tiada henti ini.

Prof. Dr. Ir. Otto S.R. Ongkosongo, BE. adalah alumni Universitas Gadjah Mada dan Université de Bordeaux I (Perancis), Council Member United Nations University (UNU) 2004-2010, Anggota DSDAN 2014-2019, 2019-2024.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here