Resep Sehat Pak Ton

Resep Sehat Pak Ton

Banyak menahan di waktu muda, agar banyak pilihan di waktu tua. Itu salah satu resep sehat Pak Ton, yang disampaikannya padaku setahun lalu, menjawab pertanyaanku, pada ulang tahunnya yang ke 76.

Tentu saja aku protes. Apa buktinya kalau Pak Ton banyak menahan di waktu muda? Sedangkan jelas kuingat, baginya hanya ada 2 rasa makanan. Yaitu enak dan enak banget. Ga ada tuh, makanan yang ga enak buat beliau. Kalau kita ke lapangan, beliau yang paling tahu tempat makan yang enak. “Kalau ke tempat baru yang kamu baru sekali kesitu, perhatikan saja siapa yang makan di warung itu Tan. Kalau banyak supir truk makan di situ, jaminan tuh. Mesti enak itu makanannya,” kata beliau dulu berbagi rahasia. Jadi bagaimana ceritanya??

Beliau tertawa mendengar protesku. “Lho, lha ya saya ini alhamdulilah masih bisa makan semuanya Tan. Tapi kan ada batasnya. Contoh, waktu kapan itu saya ke Balikpapan. Ya hari pertama dan kedua saya makan kepiting yang enak banget itu. Tapi kalau teman lain mungkin masih bisa makan kepiting sampai seminggu, saya ya cukup hari itu saja. Besoknya ganti menu yang lebih aman.”

Iya juga ya. Kayaknya dulu, walau tidak menolak menu apapun yang terhidang di meja, termasuk misalnya kue tart ulang tahun yang dibawakan para mahasiswanya, Pak Ton hanya makan sekedarnya. Tidak pernah seperti saya, yang nambah-nambah kalau lagi makan di warung padang 😊.

Dan memang begitulah. Di acara halal bihalal Kageogama kemarin, saya beruntung Pak Ton memilih duduk makan di dekat saya dan Mas Murdoko. Asyik cerita membuat saya tidak memperhatikan isi piring beliau. Namun Mas Murdoko yang perhatian, tiba-tiba menawarkan diri, “Saya ambil lauk tambahannya ya Pak Ton?”

Saya lirik piring beliau. Lha kok tinggal ada nasi putihnya saja. Bergegas saya yang merasa diri lebih muda, meminta piring beliau. “Saya saja yang ambilkan ya Pak Ton.” Sekilas beliau seperti menolak, tapi mungkin sungkan dengan uluran tangan saya. Diserahkannya piringnya, sambil berpesan, “Sayurnya saja ya Tan.”

“Ayam goreng?”

“Ndak usah.”

“Tempe ya Pak Ton?” kata Mas Murdoko.

“Ya, bolehlah,” jawab beliau akhirnya.

Bergegas saya ke meja prasmanan. Menyendokkan sayur tumisan yang enak itu, mengambil satu tempe goreng, dan… ayam goreng itu menggodaku. Kuambil sepotong yang berukuran kecil. Masak siy sekecil ini Pak Ton ndak mau? Pikirku bandel. Lhadalah, begitu kuangsurkan kembali piring beliau, wajah beliau berubah melihat ayam goreng itu. “Pak Ton ndak mau?” tanyaku, merasa bersalah. Beliau diam. Segera kupindahkan ayam itu ke piringku. Dan wajah beliau kembali sumringah.

“Maaf ya Pak Ton. Saya cuma ndak enak saja tadi. Masak, saya makan ayam, Pak Ton cuma makan tempe,” kataku. Pak Ton tertawa. Dan aku merasa tidak memerlukan penjelasan verbal lagi. Cukup sudah, setengah jam kemudian, aku melihat beliau bernyanyi dengan energik di atas panggung. Cukup sudah, aku melihat beliau masih mampu kembali sore ini juga ke Yogya, padahal baru tiba di Jakarta tadi pagi. Cukup sudah, aku melihat beliau masih bisa bercengkrama dengan sahabat dan murid-muridnya dengan gembira. Di usianya yang ke-77. Sehat selalu yaaaaa Pak Ton.

Must Read

NGOBROL SANTUY KAGEOGAMA

Laporan Kegiatan Kageogama NGOBROL SANTUY KAGEOGAMA "Indonesia Role in the Future of Mining Industry : Gold,...

Laporan kegiatan Geothermal Goes to Campus dengan topik HSE di Industri Panasbumi. Pemateri Pak Irawadi Prihaswan ’79

Acara Geothermal Goes to Campus kali ini yang diselenggarakan oleh divisi geothermal Kageogama dilakukan pada tanggal 30 November...

Laporan Kegiatan Geologi Out Of The Box

Divisi Internal Kageogama dan HMTG 16 November 2019 di Departemen Teknik Geologi UGM Lt. 3