Merawat Ingatan

Hari ini, izinkan saya memohon teman-teman untuk berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan memanjatkan doa, untuk mereka yang meninggalkan kita selama-lamanya karena peristiwa gempa bumi dan tsunami pada Hari Minggu, 26 Desember 2004.

Delapan belas tahun telah berlalu, tapi masih bisa saya rasakan cemas yang menggayut di hati, ketika tanah tempat berpijak tak berhenti berayun setelah lima menit berlalu. Bagaimana tidak? Beberapa gempa yang pernah saya alami sebelumnya, hanya berlangsung selama beberapa detik saja.

Saya tidak hendak berbagi duka, tidak pula minta rasa kasihan. Saya hanya berharap, ingatan akan peristiwa dahsyat itu – juga peristiwa-peristiwa lain yang serupa – akan merawat kesadaran kita. bahwa kita hidup di atas cincin api yang aktif. Bahwa tanah subur yang kita miliki berasal dari muntahan material gunung berapi, dan gunung itu bisa muntah kembali sewaktu-waktu. Bahwa bukit-bukit gundul kita bisa longsor sewaktu-waktu. Bahwa tanah yang kita pijak bisa berayun bagai ada naga yang menggeliat marah di dalamnya. Bahwa air sungai dan laut kita bisa tumpah membanjiri daratan. Bahwa bencana dapat terjadi kapan saja. Bahwa kita bisa mati kapan saja.

Tentu bukan kesadaran pasif akan mati yang kita inginkan. Sadar, lalu pasrah tanpa berbuat apa-apa. Melainkan, kesadaran yang diwujudkan dalam perilaku sehari-hari yang sadar bencana. Perilaku yang bisa mengurangi risiko bencana. Perilaku yang bisa kita mulai hari ini. Tidak setiap bencana bisa kita cegah, tetapi risikonya bisa kita kurangi.

Mungkin, kita harus banyak belajar dari Bangsa Jepang, seperti yang diceritakan Pak Wahyudi Citrosiswoyo dalam tulisannya ini. (Intan Kemala)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *